Home » » Yang Tunanetra Lebih Peka

Yang Tunanetra Lebih Peka

Written by bfilm on Sunday, August 4, 2013 | 8:34 PM

to watch online movie or film, may be, we have a problem about the movie can't loaded. So, please check or update your flashplayer before. And enable JavaScript on your browser too.
Click here
to update adobe flash player before watching the online movie

Resensi Film | BFILM - Konon, orang yang menyandang Tunanetra itu memiliki daya pendengaran lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang memiliki dua mata secara normal. Selain itu, daya sentuh/raba (kinestetik) dan perasaan mereka juga lebih peka.

Film The Colour of Paradise ini memang mengetengahkan cerita kehidupan seorang anak penyandang tunanetra dari keluarga yang relatif tergolong miskin. Meski sudah tidak memiliki Ibu, ia masih memilki nenek, ayah, dan dua saudari. Adapun setting cerita-nya berasal dari sebuah desa di pegunungan kawasan Negara Iran.

Dari cerita yang tergelar, Muhammad merupakan tokoh utama yang menyandang tunanetra. Oleh sang ayah, ia disekolahkan di sebuah sekolah khusus di kota Teheran -yang jika di Indonesia bisa kita padankan dengan SLB (Sekolah Luar Biasa).

image, film, review, The Color of Paradise, rang-e khoda, god's colour, 1999, pic

Karena sekolah itu hendak libur panjang dan Asrama Siswa juga akan diliburkan, maka Muhammad dan siswa-siswi yang lain diserahkan kembali oleh pihak sekolah kepada wali murid masing-masing. Seperti halnya siswa-siswi lainnya, pada hari penyerahan siswa, Muhammad juga dijemput oleh orang tua-nya dan dibawa pulang ke desa.

Selama perjalanan pulang dan beraktifitas di desa itulah cerita film ini banyak disajikan kepada penonton. Diawali dari kisah kepekaan Muhammad terhadap anak burung yang jatuh dari sarangnya hingga kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa akibat terseret arus sungai saat hujan deras.

Peduli Kejiwaan

Selain banyak menyajikan sisi lain dan kelebihan penyandang tunanetra, film ini juga menunjukkan adanya kenyataan yang cukup mengagetkan bagi sebagian orang. Yaitu, kenyataan bahwa kini banyak orang-orang atau lembaga yang peduli terhadap nasib anak-anak miskin, anak terlantar, anak yatim/piatu, dan para penyandang tunanetra.

Tetapi, orang-orang, lembaga (LSM/Yayasan), dan para donatur itu banyak yang hanya peduli pada kebutuhan fisik dan atau pendidikan secara umum. Mereka jarang yang memberikan kepeduliannya hingga menyentuh tataran yang paling krusial dan urgen bagi pribadi-pribadi yang malang itu. Yang di antaranya, soal kesetaraan dan kenyamanan.

:::::::::::::::
Jangan sampai ada lagi anak yang bernasib malang
menjadi semakin malang
sebagaimana cerita Muhammad dalam film ini

:::::::::::::::

Kesetaraan dan kenyamanan di sini bukan hanya pada kesetaraan aksesibilitas saja. Namun juga kesetaraan penyikapan dan pengondisian mereka yang berhubungan dengan psikologi atau kejiwaan.

Mungkin bagi sebagian anak-anak dan adik-adik kita yang kebetulan perlu mendapat perhatian lebih itu tidak merasakan atau mempedulikan adanya ancaman psikologis akibat pelabelan atau pengelompokan mereka. Namun, perlu kita pahami, bahwa rasa cuek yang demikian itu belum tentu dimiliki atau dipahami mereka semua. Sebab ada kalanya, di antara mereka yang merasa minder dan termarjinalkan akibat spesialisasi penyikapan yang berbau negatif.

Rasakan saja, misalnya, andai ada anak miskin yang berada di panti asuhan sedang berkenalan dengan anak lain di sebuah sekolah. Anak yang mengajak kenalan itu sendiri berasal dari golongan keluarga kaya raya yang kebetulan memiliki sifat kurang baik. Ketika anak yang kurang mampu itu ditanya alamat rumahnya dan lantas menjawab di sebuah Panti Asuhan Tunanetra atau Yatim-Piatu, tiba-tiba anak orang kaya itu menjawab: oh...rumahmu di panti asuhan ya? Lalu, bagaimana perasaan kita jika seandainya kita-lah yang menjadi anak miskin itu mendengar pernyataan yang bernada miring (negatif) dan berbau mengejek tersebut?

Introspeksi Kepedulian

Tanpa bermaksud mengurangi kepedulian para orang tua asuh, LSM, Yayasan, dan donatur, saya kira film ini cukup bagus dalam memantik kesadaran kita agar dalam menyalurkan kepedulian yang kita anggap positif itu tidak sampai terperosok pada kepedulian negatif.

Perlu adanya pengkajian ulang mulai dari nama atau istilah yang kita gunakan sebagai brand dalam mengakomodir kepedulian kita kepada mereka. Tidak semestinya, hal-hal yang kelihatannya remeh -semisal "nama", tanda, seragam, jargon, atau program-program tertentu yang sekiranya dapat menarik simpati para donatur secara besar-besaran itu justru "membunuh" dan "menganiaya" anak-anak miskin, telantar, yatim-piatu dan lainnya.

Persoalan yang tampaknya sepele, ringan, dan tak kentara ini memang banyak yang menganggap tidak atau kurang penting dibanding persoalan tentang pemberian makan, minum, tempat tinggal, dan pendidikan umum (sekolah, asrama, pondok, dan semacamnya) secara gratis.

Namun, akankah model kepedulian kita selama ini hanya akan berhenti dan buta dengan ancaman serius terhadap pertumbuhan psikologi anak? Pernahkah kita curiga bahwa kita-lah yang salah ketika ada banyaknya anak-anak jalanan (anjal) atau lainnya yang kabur dari rengkuhan kasih sayang yang kita bagi kepada mereka? Padahal, kita sudah memberikan gratisan tempat, makan-minum, akses, dan pendidikan.

Akankah kita hanya menyalahkan mereka bahwa mereka itu goblok dan tidak tahu masa depan? Jangan-jangan, penyalahan itu malah mencerminkan kita sendiri-lah yang goblok dan tidak tahu masa depan anak-anak itu secara manusiawi. Atau, kitalah yang justru terbersit niat kotor untuk mengayomi mereka dalam satu atap dan akses dengan berharap bisa menjual mereka kepada calon-calon donatur atau pemberi sumbangan jalanan?

Sementara itu kita turut serta menggasak remah-remah citra positif kepedulian sebagai legitimasi untuk kampanye politik, pencitraan akan keshalehan diri, atau untuk menuntut Tuhan dikemudian hari agar terpaksa menambah jatah rejeki/pertolongan bagi kita dan keluarga. Atau lagi, jika nantinya sudah meninggal, kita akan menggertak-gertak para malaikat dan menuntut Tuhan agar memberikan surganya pada kita.

Tentu niatan semacam itu tidak baik jika dimiliki atau dipertahankan oleh mereka yang mengaku telah berjasa dan mengamalkan ajaran Tuhan agar mengayomi anak yatim sepenuh cinta dan kasih sayang yang mulia.

Dari film inilah, setidaknya kita bisa menggoda dan menguji kepedulian kita selama ini terhadap anak-anak dan adik-adik kita yang musti di-support dari beragam sisi kehidupan. Bukan hanya sisi sandang, pangan, dan tempat tinggal saja. Namun lebih dari itu juga soal penjagaan dan pendidikan terhadap jiwa-jiwa suci mereka.

Jangan sampai ada lagi anak yang bernasib malang menjadi semakin malang sebagaimana cerita Muhammad dalam film ini. Khususnya, ketika adegan Muhammad saat membeberkan perasaanya kepada gurunya yang sama-sama buta namun mandiri dengan profesinya sebagai Tukang Kayu.

Mari bersama-sama meningkatkan kualitas kita dalam mengukir dan memahat masa depan bersama sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan hidup bersama, bersosial, berkepedulian, berkasih sayang,dan beragama.

Sony Pictures Classics | 1999 | The Colour of Paradise (Rang-e Khoda / God's Colour )

Share this article :

0 comments:

¡ REGÍSTRATE AHORA !
¡¡ Y te damos 1€ gratis con tu registro !!
withdraw : PayPal | Western Union | Neteller
 
Support : Action | Animation | Family
Copyright © 2013. BFILM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger